Author Archive

Jiwa dan Kosong

by on Wednesday, February 3rd, 2010

Pernah aku seorang dulu
seakan lelaki teguh yang meratap nasibnya
bersama bayang malam di kubur sunyi
dengan cahaya bulan penuh dan angin suram
pada tangan kiriku memegang sebuah biola
akan kumainkan puisi malam ini
untukmu kasih untuk jiwa wanitamu
dan ingatan pada aku di duniamu
dialam biru
kukeraskan jari jemariku mengenggam erat tanahmu
menangis pada sudut wajahmu
supaya kau merindui aku nanti;


*biola digesel*

pejam mata untuk aku
setiap kali aku bangun dari tidur
wajahmu,wajah yang pertama mengisi hariku
senyummu menusuk penuh tajam jiwaku
nafasmu hangat menyentuh bangunku
suaramu seakan nyanyian merdu
sememangnya aku merindui saat-saat itu
disini disisiku cuma tiada siapa
bila saat terakhir kau mengucup dahiku
kau tidur dengan senyuman
tanpa air mata
tanpa kata
disudut hati yang sama
aku mengadu terpaku
mengenang hari-hariku kelak
saat aku bangun dari tidur
disaat hiba batinku
bila aku tidur nanti
lemparkan sayapmu pada sejukku
hangatkan dingin ini dengan pelukanmu
hanya kamu bidadariku
janji kita waktu itu?
masih digengamanmu?
dengarkan aku sayang
tiada makna cinta tanpa hadirmu
tiada kata sayang tanpa cintamu
hanya tangis di jiwa ini kosong
dengan rasa-rasa yang takpernah ada
merakam isi perut yang lopong
menggugurkan dedaun pine segar
menelan rasa pahit dilidah
mengejut takut dan sepi
menulis tak berpengarang
mengusap lekit peluh dimuka
menjilat air hujan pada besi
bukan itu,cuma
aku perlukan cerita bersama kamu
tertawa bercanda,bergurau senda
menagih cinta bermanja-manja
melakar kenangan kasih ini
selamanya..
hari ini
kau cuma perlu pejam mata
untuk aku hadir bersama mu nanti


januari 11

Jiwa,mati

by on Wednesday, February 3rd, 2010

ke kiri ku buntu

ke timur ku kalbu

menatap wajah penuh cahaya itu

merindukan aku pada sinarnya

yang mengoda aku

pada bayang sepi malam itu

seperti bidadari mimpi setiap tidurku

jiwaku goyang

di setiap gelombang kata-katanya

dia yang pesona

telah menghempas perasaanku

mati…

Meratah Kesempurnaan

by on Wednesday, February 3rd, 2010

Andai kau meratah kesempurnaan
jadilah manusia yang sesungguhnya
cuma kau tak perlu bimbang
nanti akan ada tangan menyambutmu
pulang ke PadaNya

Dendam Si angin

by on Tuesday, January 12th, 2010

api-api itu memantul pada cahayanya

merah yang berliku di kota sepi suara

seperti angin-angin yang bersiul tanpa kata

sunyinya bintang tak mahu hadir

kerana dendam pada pilu yang terperam

ya…..kerana dendam mereka

dendam pada keseronokan

farid Sukur