Jiwa dan Kosong
Pernah aku seorang dulu
seakan lelaki teguh yang meratap nasibnya
bersama bayang malam di kubur sunyi
dengan cahaya bulan penuh dan angin suram
pada tangan kiriku memegang sebuah biola
akan kumainkan puisi malam ini
untukmu kasih untuk jiwa wanitamu
dan ingatan pada aku di duniamu
dialam biru
kukeraskan jari jemariku mengenggam erat tanahmu
menangis pada sudut wajahmu
supaya kau merindui aku nanti;
*biola digesel*
pejam mata untuk aku
setiap kali aku bangun dari tidur
wajahmu,wajah yang pertama mengisi hariku
senyummu menusuk penuh tajam jiwaku
nafasmu hangat menyentuh bangunku
suaramu seakan nyanyian merdu
sememangnya aku merindui saat-saat itu
disini disisiku cuma tiada siapa
bila saat terakhir kau mengucup dahiku
kau tidur dengan senyuman
tanpa air mata
tanpa kata
disudut hati yang sama
aku mengadu terpaku
mengenang hari-hariku kelak
saat aku bangun dari tidur
disaat hiba batinku
bila aku tidur nanti
lemparkan sayapmu pada sejukku
hangatkan dingin ini dengan pelukanmu
hanya kamu bidadariku
janji kita waktu itu?
masih digengamanmu?
dengarkan aku sayang
tiada makna cinta tanpa hadirmu
tiada kata sayang tanpa cintamu
hanya tangis di jiwa ini kosong
dengan rasa-rasa yang takpernah ada
merakam isi perut yang lopong
menggugurkan dedaun pine segar
menelan rasa pahit dilidah
mengejut takut dan sepi
menulis tak berpengarang
mengusap lekit peluh dimuka
menjilat air hujan pada besi
bukan itu,cuma
aku perlukan cerita bersama kamu
tertawa bercanda,bergurau senda
menagih cinta bermanja-manja
melakar kenangan kasih ini
selamanya..
hari ini
kau cuma perlu pejam mata
untuk aku hadir bersama mu nanti
januari 11